Pagi itu Sigit melangkahkan kaki nya ke rumah Bu Tita. Di tangannya terdapat
bungkusan berisi selembar syal dari wol, hasil rajutan ibunya. Syal itu memang di pesan Bu Tita seminggu yg lalu.bahkan Bu Tita sudah membayarnya. BuTita memang sudah akrab dengan keluarga sigit.
Sigit sudah sampai di rumah Bu Tita. Ia sedikit heran melihat halaman rumah Bu Tita yang megah itu sepi. Biasanya pagi-pagi seperti itu Bu Tita sibuk membenahi tamannya sambil menghangatkan diri di bawah sinar matahari.
Sigit menyusuri jalanan kerikil sampai ke depan pintu rumah. Ia menekan bel di samping atas pintu. Tidak ada jawaban. Sekali lagi ia memencet bel itu. Selama beberapa saat ia tidak juga mendengar suara di dalam rumah. Tetapi, kemudian dia mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa.
“mudah-mudahan Bu Tita,” gumah Sigit dalam hati. Betul juga! Seraut wajah berkaca mata muncul dari balik pintu.
“Ada apa?”tanya Bu Tita.
Sigit heran melihat Bu Tita tidak seramah biasanya. Ia tidak menyilakan Sigit masuk bahkan ia hanya membuka pintu sedikit, sekedar menunjukan wajahnya.
“Selamat Pagi Bu,”kata Sigit. “Saya membawa pesanan syal lembut ibu.” Ia menyerahkan bungkusan ya ng di bawanya.
“Terima kasih,” sahut Bu Tita pendek.
Ketika Sigit melihat wanita itu akan segera menutup pintu, ia lekas-lekas menembahkan,”Ini Bu, uang kembaliannya dari ibu saya. Kata ibu, uang ini terlalu banyak untuk ongkos syal itu.”
Sigit merogoh-rogoh saku celananya mencari uang yang tadi di bawanya. Cukup lama ia merogoh saku celananya karena uang yang tadi terjejal oleh kelereng-kelereng dan barang kecil di sakunya.
“Cepat seikit Gi!”ujar Bu Tita.”Ikan gorengku bisa hangus nanti.”
Bergegas sigit mengambil lipatan uang itu lalu mengangsurkannya pada Bu Tita.Begitu uang berada di tangannya, Bu Tita lekas-lekas menutup pintu.
Setelah Bu Tita Menghilang, Sigit berpikir lagi. “Aneh! Ada apa dengan Bu Tita?”
Dalam perjalanan ke rumahnya, Sigit masih memikirkan keanehan tingkah laku Bu Tita.”Ada apa,ya kok anah sekali sikapnya.”
Tiba-tiba Sigit tersentak.
“Ikan goreng? Bu Tita berkata kalau ikan gorengnya bisa hangus?”
Sigit masih ingat benar ketika Bu Tita dulu di tawari ikan oleh ibu Sigit, ia menolaknya. Katanya ia tidak suka makan ikan. Di kemudian hari ia tahu kalau Bu Tita ternyata alergi terhadap segala jenis ikan. Setiap kali makan ikan, tubuhnya akan kegatalan.
BERSAMBUNG..........
Rabu, 07 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
baguuussss c...yah lumayan-lumayan!!!!!hahahahaha
Posting Komentar